NADIKABAR.COM — China menentang kebijakan Amerika Serikat (AS) terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). China mengecam langkah pemerintah AS yang memerintahkan lembaga-lembaganya untuk berhenti menggunakan AI dari DeepSeek.
Dilansir Xinhua, Rabu (21/10/2026), China menganggap AS telah melakukan perluasan keamanan nasional yang berlebihan serta politisasi isu-isu ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan perdagangan.
"Kami akan dengan tegas melindungi hak-hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China," ujar Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok China Mao Ning.
China dan AS telah terlibat perang dagang sengit. AS dan China juga bersaing ketat dalam urusan AI.
Dilansir DW, posisi China berubah dengan cepat dalam urusan AI. Dari yang tertinggal 5 tahun dari AS di bidang kecerdasan buatan (AI) kelas atas menjadi tertinggal hanya beberapa bulan saja.
Saat para pengembang AS seperti Claude dari Anthropic dan ChatGPT dari OpenAI telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk mendorong kemajuan AI, China justru menempuh jalur yang berbeda. Perusahaan teknologi China telah memprioritaskan puluhan model AI dengan sumber terbuka yang dibangun dengan basis teknologi yang cukup baik.
Platform-platform ini, termasuk DeepSeek, Qwen dari Alibaba, dan MiMo dari Xiaomi, kini telah diterapkan secara luas di berbagai bisnis, layanan pemerintah, dan beragam perangkat konsumen di Cina. Sebagai tanda terbaru bahwa jarak tersebut semakin menyempit, perusahaan rintisan China, Moonshot AI, pekan lalu meluncurkan Kimi K3, sebuah model yang mampu menyaingi salah satu model AI paling canggih, Claude Fable 5 dari Anthropic, sebagai tolak ukur pertama.
Kemajuan terbaru China ini telah memicu reaksi keras dari Washington. Pada Juli lalu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memblokir akses AS ke model-model AI Cina. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan AS dapat menjatuhkan sanksi terhadap model-model China terkait dugaan pencurian kekayaan intelektual (IP).
Anthropic dan OpenAI menuduh laboratorium-laboratorium China menggunakan model AI AS untuk melatih sistem mereka, sebuah proses yang dikenal sebagai knowledge distilling atau transfer pengetahuan.