Dia menjelaskan, upaya tersebut dilakukan agar kekeringan tidak berlanjut hingga mengganggu pelaksanaan musim tanam pertama pada periode Oktober hingga Desember 2026, sehingga pihaknya berupaya agar kekeringan berhenti pada September dan Oktober.

Perkembangan kondisi cuaca dan ketersediaan air tetap menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian yang ada di Kabupaten Cianjur.

β€œDari sisi dampak terhadap produksi, kami menilai tidak terlalu signifikan, gangguan yang diperkirakan hanya sekitar 1 persen sehingga tidak menyebabkan penurunan produksi secara drastis,” katanya.