"Ini juga peluang yang cukup sangat dramatis yang hari ini sebagian telah dikelola dan telah dilakukan verifikasi badan internasional, standardisasi internasional yang kita harapkan mampu mendukung tumbuhnya kembang ekonomi," ujarnya.
Belum lagi menurut Hanif pengembangan ekonomi hijau nasional kerap kali menarik dukungan pembiayaan dari luar negeri yang bisa menjadi modal lain dalam pengelolaan lahan gambut. Ia mencontohkan Norwegia yang sudah menggelontorkan dana hampir Rp 4 triliun dalam komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk proses dekarbonisasi Indonesia.
"Dari sisi ekonomi hijau, kontribusi internasional cukup besar. Perhatian gambut internasional sangat besar, tinggal bagaimana kita menjaga integritas dari dana-dana yang masuk. Seperti dari Norwegia yang sudah menggelontorkan hampir Rp 4 triliun," terang Hanif.