Selain penutupan, Danantara juga melepas (divestasi) 208 perusahaan non-inti seperti anak usaha kontraktor BUMN Karya yang justru memiliki aset melenceng seperti hotel dan jaringan serat optik.

Restrukturisasi keuangan fundamental turut diterapkan pada 15 perusahaan bermasalah, termasuk Krakatau Steel, Kimia Farma, Garuda Indonesia, serta PT Adhi Karya dan PT PP.

Di sektor konsolidasi yang melibatkan sekitar 200 entitas, Danantara telah melebur tujuh perusahaan logistik (freight-forwarding) di bawah Pelindo.

Lalu, penyatuan 60 rumah sakit ke dalam Indonesia Healthcare Corporation (IHC) serta 72 aset hotel milik BUMN berhasil dikonsolidasikan di bawah naungan Injourney Hospitality (HIN).

Konsolidasi lima entitas manajemen investasi (Mandiri, BNI, BRI, dan PNM) juga telah melahirkan manajer aset terbesar di Indonesia dengan total dana kelolaan mencapai Rp190 triliun.