NADIKABAR.COM — Danantara akan mengalokasikan US$ 100 juta atau Rp 1,7 triliun (kurs Rp 17.900) setiap tahun untuk mendukung program sosial melalui Danantara Trust. Pendanaan tersebut akan difokuskan pada tiga sektor utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan sanitasi.

Sebagai informasi, Danantara Trust adalah unit atau lembaga filantropi resmi yang didirikan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). CEO Danantara Rosan Roeslani berharap lembaga tersebut juga mampu membangun kepercayaan di tingkat internasional.

"Danantara Indonesia memang berkomitmen untuk setiap tahunnya minimum memberikan pendanaan US$ 100 juta kepada Danantara Trust, itu adalah komitmen kami. Harapannya dengan pendanaan ini kita bisa berkontribusi memang di tiga bidang, kesehatan, edukasi, dan juga sanitasi," kata Rosan dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (15/10/2025).

Salah satu program yang dijalankan adalah pemberian beasiswa pendidikan kepada 1.343 calon dokter spesialis. Bantuan tersebut tidak hanya mencakup biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup selama peserta menjalani pendidikan.

Rosan menjelaskan dukungan biaya hidup diperlukan karena para dokter tidak dapat bekerja atau membuka praktik selama menjalani pendidikan spesialis. Proses pendidikan tersebut diperkirakan berlangsung selama 3 hingga 6 tahun.

"Jadi kami pun memberikan tidak hanya dari segi beasiswanya saja, tapi juga biaya untuk hidup mereka selama mengikuti pendidikan sebagai dokter spesialis atau living expenses-nya," jelas Rosan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Danantara Trust telah menyetujui pendanaan untuk dua program kesehatan. Rinciannya Rp 200 miliar untuk vaksinasi HPV guna mencegah kanker serviks dan Rp 600 miliar untuk beasiswa pendidikan dokter spesialis.

Budi mengatakan bantuan vaksinasi HPV diharapkan dapat mempercepat upaya pencegahan kanker serviks di Indonesia. Menurutnya, keterbatasan anggaran sebelumnya membuat pelaksanaan program tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga 15 tahun.

"Programnya harusnya 15 tahun karena uangnya kurang. Dengan adanya bantuan Danantara Trust ini kita pengen percepat. Siapa tahu bisa 10 tahun sampai 5 tahun," ujar Budi.

Selain itu, pendanaan pendidikan dokter spesialis akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis di daerah yang masih kekurangan dokter. Budi mencontohkan wilayah Nias dan Papua Pegunungan yang membutuhkan dokter spesialis untuk menangani penyakit seperti stroke dan jantung.

Para dokter yang mengikuti program tersebut akan mendapatkan pembiayaan pendidikan dan biaya hidup selama menjalani pelatihan di Jakarta maupun luar negeri. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diwajibkan kembali ke daerah asal untuk memberikan pelayanan kesehatan.

"Selama 3-4 tahun mereka dididik, mereka dibiayai penuh oleh Danantara, dan kita bilang kalau pulang harus kembali ke misalnya Papua Pegunungan atau Nias menyelamatkan nyawa dari sana," tutup Budi.