Penilaian ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap AI dan pusat data yang ternyata menjadi salah satu pemicu penolakan terhadap Partai Republik dan Presiden AS Donald Trump yang vokal terhadap pengembangan teknologi tersebut.

Survei exit poll nasional oleh NBC News menunjukkan bahwa 56 persen pemilih menganggap AI dan pusat data sebagai faktor sangat penting atau utama dalam menentukan suara mereka di Kongres. Sekitar 64 persen dari kelompok pemilih ini adalah pendukung Demokrat.

Selain itu, sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos tepat sebelum pemilu menganggap pembatasan pembangunan pusat data AI sebagai isu yang sangat penting atau paling penting bagi mereka.

Tak hanya itu, Kongres yang didominasi oleh Partai Demokrat juga diperkirakan akan mengejar peraturan yang dapat secara langsung memperlambat penelitian dan pengembangan AI terdepan.

Dari sisi kompetisi AI antara AS-China, hasil pemilu sela dapat mendorong perusahaan komputasi awan AS seperti Amazon Web Services dan Google untuk membangun pusat data baru di luar negeri. Kondisi ini dapat mengintensifkan persaingan antara kedua negara ini di pasar negara ketiga, termasuk Asia.

Hingga Rabu (4/11) dini hari waktu AS, para pemilih telah menyetujui hampir setiap langkah pemungutan suara tingkat lokal terkait pusat data di 13 negara bagian, termasuk proposal untuk membatasi pembangunan dan memberhentikan politik yang pro-pusat data.

Untuk para investor, fokus utamanya adalah seberapa besar pembatasan baru tersebut dapat menunda pembangunan pusat data, meningkatkan biaya terkait, hingga mengubah secara signifikan perhitungan bisnis pembangunan infrastruktur AI di AS. Hal ini disampaikan oleh pendiri firma riset Tech Buzz China Rui Ma.