"Nah, dari yang data yang sudah kita dapatkan tadi, kita gunakan informasi atau karakteristik, kalau bahasa statistik-nya atau bahasa model lah, persamaan, yang bisa kita gunakan untuk bahwa, 'Oh, orang yang punya karakteristik tertentu ini, itu punya pengeluaran yang mungkin sama.' Makanya dianggap sebagai estimate, gitu," tambahnya.
Barulah dari hasil estimasi pengeluaran per kapita ini kemudian digunakan untuk menyusun urutan atau pemeringkatan seluruh keluarga secara bertahap.
"Dari diprediksi tadi, kemudian kita gunakan dari sekian mungkin hasil 90 juta sekian ya, yang tidak punya informasi pengeluarannya, kita gunakan variabel prediktor, penduga, yang karakteristik rumah tangga, kemudian kondisi rumah, juga aset, dan sebagainya, kita gunakan untuk memperkirakan berapa sih dia nilai pengeluaran per kapitanya," jelas Setia.
Meski begitu, Setia menekankan perhitungan dan pemodelan perhitungan desil ini tidak langsung diratakan secara nasional, melainkan disesuaikan dengan kondisi geografis dan karakteristik sosial-ekonomi di tiap wilayah.
"Bahwa pasti karakteristik daerah pun berbeda-beda antardaerah. Di Jakarta, kita sekarang hidup dalam bubble kita. Kita merasa miskin di daerah kita. Bisa jadi Papua tuh jauh lebih miskin misalkan," tuturnya.