Oleh karena itu, BPS menjalankan pemodelan khusus untuk setiap daerah. Sehingga tingkat kesejahteraan desil 1 di suatu daerah bisa jadi berbeda di daerah lain. Semisal tingkat pengeluaran warga desil 1 bisa berbeda dengan pengeluaran warga desil 1 dari daerah Papua seperti yang dicontohkan Setia.
"Tinggal ranking-nya, kita ranking di kabupaten/kota tadi. Nah, kemudian nanti dari ranking kabupaten kita akan masuk ke ranking provinsi, dan sampai ranking nasional. Seperti itu," paparnya.
Terkait dengan adanya potensi kesalahan prediksi (error) dalam pemeringkatan desil, Setia mengakui secara akademis dan statistik hal tersebut dapat terjadi, namun BPS terus melakukan perbaikan.
"Kalau kita bicara data, bicara model memang ada error di sana. Error pertama ada dari data, pertama itu. Whatever data yang kita berikan, model yang kita gunakan itu bagus atau tidak, kalau datanya tidak sesuai dengan kondisi lapangan, ya salah," tegasnya.