NADIKABAR.COM β Ketika banyak orang menyambut meriah ChatGPT pada akhir 2022 sebagai sebuah hiburan, Tessar Napitupulu justru merasa cemas.
Melalui sejumlah pengujian, pendiri dan CEO Arfadia itu menyadari sebuah perubahan, bahwa orang ingin AI yang melakukan riset bagi mereka, lalu memberi kesimpulan.
Dengan bisnis yang ia bangun sejak 2008 dan bertumpu pada pencarian Google, Tessar tahu harus melakukan sesuatu. Terlebih, momen itu datang tepat setelah ia terseret masalah akibat salah satu proyek besar yang membuat usahanya jatuh ke titik terbawah.
Saat itu, Tessar harus menghadapi kenyataan bahwa modal perusahaan tergerus, dengan tagihan dan tuntutan datang dari berbagai pihak dalam waktu bersamaan.
"Semuanya datang serentak, seakan hidup menguji seberapa kuat saya bisa berdiri. Saya nyaris putus asa, karena bebannya terlalu berat untuk dipikul sendiri. Tetapi justru di titik terendah itu saya menemukan alasan untuk tidak menyerah," tutur Tessar.
Tessar tertatih selama berbulan-bulan untuk menyelesaikan semua kewajibannya, antara lain dengan melepas asetnya satu per satu.
Ia juga belajar bahwa penting untuk menyaring proyek dan menilai klien sebelum menerima pekerjaan.
"Di masa itu, saya kehilangan banyak hal. Namun iman saya kepada Tuhan menjadi pegangan saya, dan rumah ibu menjadi tempat saya memulai lagi. Dari meja makan di rumah beliau, saya perlahan membangun kembali usaha dan hidup saya," katanya.
Seiring popularitas ChatGPT semakin memuncak, jumlah klien Arfadia pun menurun. Tessar tidak mau menunggu. Ia mulai mempelajari cara mesin AI memilih sumber dan merek yang disebut dalam jawabannya, dan memahaminya.