Tessar mengakui, proses pengambilan keputusan calon klien ikut berubah.

"Dulu, memilih agensi itu perjalanan panjang yang berjenjang. Sekarang riset awalnya sudah dikerjakan AI, sehingga ketika calon klien menghubungi kami, mereka sudah mengenal kami sebelum kami berbicara apa pun. Kepercayaan sekarang terbentuk jauh sebelum pertemuan pertama," tuturnya.

Bagi bisnis, perubahan ini membawa dua pertanyaan penting. Pertama, apakah mereknya muncul ketika calon pelanggan bertanya ke asisten AI.

Kedua, pihak mana yang memiliki rekam jejak untuk membantu mereka tampil di respons AI. Jawaban dari kedua pertanyaan itu berada di pusat pekerjaan GEO yang digeluti Tessar dan timnya.

Secara khusus, Tessar menyatakan bahwa pemilik usaha membutuhkan lebih banyak strategi dari mengecek merek di Google dan TikTok.

"Pertanyaan berikutnya adalah, ketika calon pelanggan meminta rekomendasi kepada AI, apakah bisnisnya ikut dipertimbangkan? Kalau pesaing disebut tetapi bisnis kita tidak, kita perlu mencari tahu penyebabnya. Apakah informasi tentang usaha kita sulit ditemukan, keunggulannya tidak jelas, atau belum ada cukup sumber yang mendukung reputasinya? Dari situ baru kita tahu apa yang perlu dibenahi," katanya.

Dari perjalanannya merasakan kepahitan kegagalan, Tessar kini menjangkau calon klien dari berbagai negara. Saat ini, ia tergabung dalam Forbes Agency Council dan masuk daftar Top 10 Leaders in Advertising Services in Indonesia 2023 versi CEO Insights Asia.

"Saya pernah kehilangan hampir segalanya karena keputusan yang salah. Ketika AI datang, saya tidak mau kehilangan lagi hanya karena terlambat belajar. Ternyata yang dulu paling saya takutkan, kini mengantarkan pekerjaan ke pintu saya setiap hari," pungkas Tessar.