NADIKABAR.COM — Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Ahmad Yani memastikan koreksi pasar saham imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) tak memberikan dampak pada fundamental maupun rencana pertumbuhan perusahaan. Sebagaimana diketahui, IHSG turun tajam usai MSCI membuka peluang menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Ahmad mengatakan kondisi itu memicu aksi jual investor asing hingga mencapai Rp 94,87 triliun dari awal tahun. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dari level 8.647 menjadi 5.439 atau sekitar 37%.

Meskipun saham PGE mengalami koreksi sekitar 8,89% sejak akhir 2025 hingga saat ini. Kata Ahmad, hal ini tidak memberikan dampak kepada fundamental PGE.

"Nah inilah bentuk kondisi pasar saat ini di Indonesia tetapi kondisi ini tidak memberikan dampak kepada fundamental PGE, tidak berdampak kepada rencana pertumbuhan PGE," ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Rabu (4/11/2027).

Ahmad menyampaikan sepanjang Januari-Septermber 2026, produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri (own operation). Produksi ini meningkat 9,79% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus mencetak rekor produksi tertinggi (all time high) dan mencapai 108,22% dari target 3.801 GWh.

Dari sisi keuangan, PGE membukukan pendapatan sebesar US$ 352 juta hingga September 2026. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar US$ 126 juta dan EBITDA mencapai US$ 287 juta.

PGE juga mencatatkan emisi karbon yang dihilangkan setara 3,48 juta ton CO2 melalui pemanfaatan energi panas bumi.

"Nah inilah bentuk nyata bahwasannya kondisi pasar yang tidak menentu penurunan portalitasi ini tidak memberikan dampak kepada performance PGE," terangnya.