"Dampaknya mungkin ke perekonomian saya kira salah satunya ini barang-barang impor kita. Karena rupiah melemah, biasanya barang impor pasti jadi lebih tinggi dan inflasi terjadi," terangnya.
"Inflasi secara umum ini bisa sampai 3,5% ya tampaknya. Salah satu faktornya adalah imported inflation dari barang-barang impor ya, misalnya besi, baja, bahan kimia, macam-macamnya," ungkap Tauhid lagi.
Tidak hanya itu, ia menilai pelemahan rupiah ini memberikan 'pukulan ganda' pada sektor energi dan transportasi nasional. Sebab pelemahan ini terjadi saat harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas US$ 105-106 per barel.
Dalam hal ini sudah harga minyak mentah yang diimpor semakin mahal, rupiah yang perlu dikeluarkan untuk membeli minyak dalam mata uang dolar juga semakin besar imbas pelemahan mata uang. Alhasil harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi termasuk avtur naik secara perlahan.
"Termasuk juga harga BBM nonsubsidi, ya, itu juga menurut pendorong ya, termasuk tiket pesawat yang menyesuaikan harga avtur. Walaupun nanti Desember mungkin ada diskon, tapi tetap harganya sudah tidak bisa ditolerir begitu karena harga BBM-nya tinggi," kata Tauhid.
Kondisi ini menurut Tauhid pada akhirnya berisiko menekan daya beli masyarakat secara bertahap. Selain inflasi dan kenaikan harga komoditas, bahkan pelemahan rupiah ini juga memberikan beban berat bagi korporasi dan para importir yang memiliki kewajiban utang luar negeri dalam bentuk valuta asing (valas).
"Tapi kalau misalnya utang dalam bentuk valas ke luar negeri, ya mereka akan membayar utang dengan jauh lebih mahal ketika nilai tukar rupiah juga melemah," tegasnya.