Hal senada juga disampaikan Pengamat Mata Uang Lukman Leong. Ia berpendapat pelemahan mata uang Garuda di atas Rp 18.000/dolar AS akan berlangsung hingga akhir tahun. Bahkan ia menilai rupiah bisa anjlok hingga ke level Rp 18.350/dolar AS pada akhir 2026.
"Untuk akhir tahun diperkirakan berkisar 18.350," ujar Lukman kepada NadiKabar.
Masalahnya pelemahan rupiah ini dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi. Kondisi ini dapat memicu kenaikan harga barang domestik, meski setiap pelaku pasar memiliki langkahnya masing-masing untuk mengatasi masalah ini.
"Namun kenaikan harga tidak selalu terjadi secara langsung karena bergantung pada stok, kontrak impor, biaya produksi, dan kemampuan produsen menyerap kenaikan biaya," ujarnya.
Hanya saja mengingatkan pelemahan rupiah ini dapat berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni akhir tahun atau bisa lebih, besar kemungkinan harga-harga produk domestik tetap mengalami kenaikan meski sudah sedikit diredam oleh pelaku industri dan dunia usaha.
"Jika pelemahan berlangsung lama, tekanan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat," tandas Lukman.