Kenaikan yield surat utang AS tersebut membuat aset dolar kembali mendapat tekanan penguatan, di mana pada saat yang bersamaan kondisi geopolitik turut menjadi perhatian pasar. Sementara dari faktor dalam negeri, kebutuhan valuta asing (valas) juga meningkat menjelang berakhirnya kuartal III 2026.
"Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$ 100 per barel," jelasnya.
"Dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets," ungkap Erwin lagi.