Bahlil pun menyampaikan, saat ini kapasitas produksi dan cadangan nikel yang ada telah mencapai sekitar 2,5 juta. Kondisi tersebut dinilai telah menciptakan oversupply sehingga harga nikel mengalami tekanan.
"Dan industri-industri yang menghasilkan setengah jadi ini, kita lagi mengkaji kalau memang kita sudah terjadi oversupply untuk dunia, sekarang kan kita yang dari kebutuhan dan cadangan sekarang ada 2,5 juta. Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh," katanya.
Sebaliknya, kata Bahlil, industri yang menghasilkan produk hilir secara langsung akan lebih didorong oleh pemerintah. Hal ini diharapkan dapat mengubah struktur ekonomi Indonesia sehingga hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi.
"Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung. Supaya struktur ekonomi kita bisa betul-betul terjadi shifting," terangnya.