NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung buka suara terkait usulan dari Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun yang mendorong batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) dikaji kembali.

Adapun usulan ini muncul dalam pembahasan Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Keuangan Negara, Kamis (17/9/2026). Juda menegaskan, pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit di bawah 3% terhadap PDB. Hal ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas fiskal.

"Tapi kita tetap konsisten di bawah 3%. Iya itu menjaga kredibilitas dari fiskal, maksudnya itu," ujarnya saat ditemui, Kamis (17/9/2026).

Sebelumnya, Misbakhun mempertanyakan soal batas defisit 3% harus terus diperlakukan sebagai angka yang absolut dalam pengelolaan fiskal Indonesia. Padahal kata Misbhakun, ketentuan tersebut bukan merupakan norma yang secara eksplisit diatur dalam batang tubuh Undang-Undang Keuangan Negara.

"Orang mengatakan defisit 3%, saya tanya di pasal berapa, enggak ada yang bisa menyebutkan. Defisit itu bukan norma. Defisit itu enggak ada di norma. Rasio utang 60% itu tidak ada di norma. Ada di dalam penjelasan Undang-Undang, yang membahas tentang APBN itu ada di pasal 12 Undang-Undang tersebut. Ada 4 ayat di sana," terang Misbakhun.

Menurut Misbakhun, kondisi tersebut perlu dikaji kembali, terutama ketika pemerintah membutuhkan ruang fiskal untuk melakukan intervensi guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Nah sekarang pertanyaannya adalah apakah 3% itu menjadi sangat sakral? Sekarang pertanyaannya juga ketika situasi membutuhkan intervensi," katanya.

Politikus Partai Golkar tersebut menilai Indonesia membutuhkan ruang ekspansi fiskal untuk memanfaatkan momentum bonus demografi dan mendorong masyarakat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

"Kita mempunyai momentum untuk keluar dari middle income trap, membawa rakyat itu keluar dari penghasilan menengah menuju penghasilan tinggi, itu kan butuh ekspansi pertumbuhan. Bagaimana cara mencapai ekspansi pertumbuhan itu kalau kita nge-lock di sana?" katanya.