Di luar itu, Titiek mengaku akan segera menghubungi pihak-pihak terkait seperti Menteri Pertanian (Mentah) Andi Amran Sulaiman dan Bulog untuk menyediaka pasokan pakan terutama jagung dengan harga yang terjangkau. Menurutnya hal ini seharusnya mudah dilakukan mengingat klaim pemerintah yang mengatakan saat ini Indonesia juga sudah swasembada jagung.

"Habis ini saya telepon Pak Menteri dan Bulog supaya harga jagungnya ini bisa distabilkan lagi gitu, ya, terutama untuk para peternak-peternak ini. Orang katanya, saya juga akan nanya lagi, katanya sampeyan sudah swasembada. Kalau swasembada bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia mengenai jagung ini kan? Jadi Pak, kami akan usahakan," ujar Titiek.

Untuk diketahui, para peternak ayam petelur dari berbagai daerah yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) sempat menyampaikan keluhanannya di hadapan Komisi IV DPR RI. Melonjaknya harga pakan ayam membuat biaya operasional kian mencekik usaha peternakan rakyat hingga terancam berhenti berproduksi.

Perwakilan nsar Petelur Nasional (PPN), Suardi, mengungkapkan bahan pakan ayam petelur khususnya jagung dan bungkil kedelai merupakan biaya terbesar dari total modal utama produksi mereka. Kondisi ini membuat komponen pakan menjadi faktor penentu utama kelangsungan usaha peternakan.

"50% beban produksi peternak itu ada di jagung. Satu hal yang tidak kalah penting adalah 25% itu berasal dari bungkil kedelai," jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).