Dalam hal ini, ia menjelaskan harga bungkil kedelai normal berada di kisaran Rp 7.200-7.500 per kilogram. Namun saat ini harga bahan pakan ayam petelur itu sudah naik jadi Rp 9.900-10.000 per kilogram jika dibeli dari BUMN-BUMN yang mendapatkan tugas untuk melakukan importasi dan penjualan bahan pakan tersebut.

Tidak hanya harga bungkil kedelai, peternak ayam petelur juga mengeluhkan kenaikan harga bahan pakan yang lain seperti jagung dan katul. Bahkan untuk jagung, selain harganya yang kini sudah cukup tinggi, saat ini ketersediaan pasokannya di pasar juga dinilai sangat terbatas.

Masalahnya di tengah lonjakan biaya modal pakan yang dialami peternak saat ini tidak sebanding dengan harga jual telur di pasaran yang justru mengalami penurunan drastis. Sebab menurutnya harga jual telur di pasaran saat ini terus merosot jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah.

Untuk itu para peternak ayam petelur ini benar-benar berharap mendapat perhatian dari DPR RI dan bantuan dari pemerintah agar masalah ini dapat terselesaikan. Sebab jika tidak, maka besar kemungkinan usaha mereka harus ditutup.

"Hari ini (harga telur) Rp 20.000 (per kilogram), di Blitar malah sudah Rp 19.000. Bulan Juni kemarin titik nadir harga telur di kandang Rp 17.100. Selama 6 bulan, kami merugi Rp 5.000 sampai Rp 7.000. Itu adalah kondisi kami," tutur Suardi.