Menurutnya, lebih dari 50% konten yang diproduksi DramaBox saat ini merupakan hasil AIGC. AI memungkinkan proses produksi berlangsung lebih cepat dan dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan produksi yang sepenuhnya menggunakan aktor manusia.

Perkembangan AI ini berpotensi mengubah cara industri memproduksi cerita. Jika sebelumnya produksi puluhan episode membutuhkan waktu, kru, lokasi dan aktor dalam jumlah besar, sebagian proses kini dapat dibantu teknologi.

Dengan kata lain, cerita tentang CEO menyamar, pewaris keluarga kaya, maupun berbagai kisah romansa lainnya kini dapat diproduksi dengan lebih cepat dan murah lewat AI.

Dalam kunjungan ke kantor DramaBox di Beijing, ada satu hal menarik lainnya. Meski tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam kantor, kami bertemu dengan orang Indonesia yang bekerja di DramaBox dan menjadi bagian dari tim operasional untuk pasar Indonesia.

Maklum saja, Indonesia menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan dalam ekspansi global mini drama. Dengan memanfaatkan teknologi dan AI, DramaBox menyebut mereka kini telah berekspansi menggunakan 16 bahasa di 76 negara.

Model bisnisnya pun tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. DramaBox memperoleh revenue dari in-app purchase, advertising, dan premium subscription.

Artinya, cerita seperti CEO menyamar bukan hanya dibuat untuk mendapatkan penonton. Cerita tersebut adalah pintu masuk menuju sebuah ekosistem bisnis.

Penonton datang karena penasaran dengan cerita. Mereka bertahan karena konflik dan emosi. Kemudian engagement tersebut dikonversi menjadi revenue melalui pembelian dalam aplikasi, iklan maupun layanan premium.

Pada akhirnya, fenomena DramaBox menunjukkan satu perubahan besar dalam industri konten. Persaingan bukan lagi semata-mata siapa yang mampu membuat produksi paling mahal atau cerita paling panjang.

Tetapi siapa yang mampu merebut perhatian dalam hitungan detik, membuat penonton terikat secara emosional, lalu membuat mereka ingin kembali untuk melihat cerita berikutnya.

Dan mungkin itu sebabnya CEO menyamar bisa menjadi bisnis yang serius. Bukan karena ceritanya selalu baru. Tetapi karena cara menceritakannya berhasil mengikuti cara baru manusia mengonsumsi hiburan.