NADIKABAR.COM — Hasil video dari drone thermal Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. Dari pemantauan di bentang alam SeKa (Sebangau-Katingan), secara kasat mata di permukaan, api tampak sudah padam dan hanya menyisakan asap tipis.
"Namun melalui kacamata drone thermal, terungkap fakta ilmiah yang mengkhawatirkan, di bawah permukaan masih menyimpan bara api. Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai Smouldering Combustion (pembakaran tanpa lidah api)," terang WWF Indonesia di akun Facebook resmi mereka.
Berbeda dari tanah mineral, gambut terdegradasi yang mengering kaya akan bahan organik bernilai bakar tinggi. Api tidak hanya menjalar secara horizontal di permukaan, tetapi juga merayap secara vertikal ke dalam lapisan tanah berbentuk kantong-kantong asap tersembunyi (below ground).
Lebih lanjut, tanpa lidah api yang terlihat, asap putih tebal terus terlepas. Sementara itu, bara bawah tanah ini sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran baru (re-ignition) saat terkena hembusan angin.
"Di sinilah inovasi teknologi Drone Thermal menjadi krusial dalam operasional pemadaman di lanskap SeKa. Sensor thermal membantu tim pemadam di lapangan melakukan assessment cepat dan menavigasi penyiraman air secara presisi dan memastikan api terpadamkan hingga ke titik bara terdalam di bawah tanah," kata WWF.
"Apresiasi sebesar-besarnya untuk seluruh lembaga, volunteer pemadam api, tim lapangan dan para penjaga benteng gambut yang tak kenal lelah bertaruh nyawa di garis depan. Semoga selalu diberikan keselamatan dan kesehatan, karena setiap lelah adalah napas bagi kita semua," harapnya.