NADIKABAR.COM — tahun mereka terbiasa mengejar narasumber, meliput peristiwa, dan bekerja di bawah tekanan tenggat berita. Kini, setelah pensiun atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sebagian mantan wartawan itu mencoba dunia yang berbeda: beternak ayam petelur.

Tian dan Saeno termasuk di antara 135 mantan wartawan yang mengikuti pelatihan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, Jawa Barat, 14-15 Oktober 2026.

Sepulang dari pelatihan, setiap peserta mendapat sepuluh ekor ayam petelur berusia belasan minggu, 90 kilogram pakan untuk tiga bulan, serta kandang bongkar-pasang yang mudah dirakit. Sekitar empat pekan kemudian, ayam-ayam tersebut diperkirakan mulai bertelur.

Sepuluh ekor ayam tentu belum cukup menopang kebutuhan keluarga. Namun, jumlah itu menjadi modal awal untuk belajar mengelola usaha, mengenali risiko, dan menguji ketekunan.

Putri Rani sudah melewati tahap tersebut. Selama 17 tahun, sejak 2008, ia bekerja sebagai wartawan tvOne sebelum terkena PHK pada 2025. Tak lama setelah kehilangan pekerjaan, ia mengikuti pelatihan angkatan pertama pada November tahun itu.

Sepuluh ekor ayam yang diterimanya dipelihara di halaman rumah. Untuk mengurangi bau kotoran, Rani menaruh sekam di bawah kandang yang dialasi bekas spanduk. Setiap pekan ia membersihkan kandang berikut tempat makan dan minum.

"Aku excited banget pas ayam ayam pertama kali bertelur. Aku videoin, anak anak gak boleh sentuh," kata Putri mengisahkan pengalamannya dengan wajah berbinar.

Keberhasilan Putri dan sejumlah peserta angkatan pertama mendorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meningkatkan dukungan menjadi 600 ekor ayam untuk setiap kelompok beranggotakan sepuluh mantan wartawan.

Nuriwan, mantan wartawan Sindo, termasuk peserta angkatan pertama yang kini mengelola 600 ekor ayam bersama sembilan rekannya. Lokasi peternakan mereka berada di Jasinga, Kabupaten Bogor, cukup jauh dari rumah Iwan di Citayam, Depok. "Gue numpang di lahan milik teman di Jasinga," ujarnya.