NADIKABAR.COM — Eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkap ada tiga hal yang menurutnya ditutupi Malaysia dalam perdebatan soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia.
Ketiganya meliputi perdagangan minyak sawit mentah, dugaan pelanggaran hak pekerja oleh perusahaan Malaysia, hingga temuan titik api di konsesi perusahaan Malaysia di Indonesia. Lutfi mengkritik narasi yang menurutnya menyudutkan Indonesia dan seruan agar RI dikucilkan oleh ASEAN.
Ia menilai persoalan karhutla seharusnya berfokus pada pertanggungjawaban perusahaan, bukan menjadikan seluruh rakyat Indonesia sebagai sasaran kecaman.
"Saya berbicara di sini bukan mewakili pemerintah, melainkan sebagai warga negara Indonesia yang terusik ketika martabat bangsanya direndahkan dengan sebutan 'outcast' (negara buangan)," tulis Lutfi dalam unggahan di akun Threads resminya, Selasa (20/10).
Ia mengatakan terdapat tiga fakta besar yang menurutnya tersembunyi di balik perdebatan politik tersebut jika dilihat dari sudut pandang perdagangan internasional.
Pertama, perdagangan minyak sawit mentah dan hilirisasi. Lutfi menilai selama puluhan tahun Indonesia hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi kilang pengolahan milik kelompok usaha besar di Malaysia hingga Eropa.
Menurut dia, risiko lingkungan dari perkebunan ditanggung Indonesia, sedangkan keuntungan dari pengolahan produk hilir banyak dinikmati perusahaan di luar negeri.
"CPO mentah dikeruk dari tanah Indonesia untuk menyuplai kilang-kilang pengolahan milik grup besar di Malaysia hingga Eropa," tulisnya lebih lanjut.