NADIKABAR.COM — Keputusan Presiden Prabowo Subianto menjadikan swasembada pangan sebagai prioritas nasional dengan target pencapaian empat tahun, yang berhasil diwujudkan hanya dalam waktu satu tahun, semakin menunjukkan arti strategisnya di tengah ancaman krisis pangan global. Saat ini, dunia menghadapi tekanan produksi beras akibat fenomena El Niño yang mulai mendorong kenaikan harga dan mengancam pasokan pangan sejumlah negara.

Laporan Bloomberg berjudul 'Asian Rice Price Climbs Near Two-Year High in Inflation Threat' mengungkapkan bahwa harga acuan beras Asia telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi pangan global karena El Nino mengganggu produksi di sejumlah negara produsen utama.

Berdasarkan data Asosiasi Eksportir Beras Thailand yang dikutip Bloomberg, harga beras putih Thailand dengan tingkat pecahan 5 persen mencapai US$499 per ton pada Rabu, tertinggi sejak Desember 2024. Kenaikan ini menunjukkan tekanan yang semakin besar pada pasar beras internasional.

Di Chicago, kontrak berjangka beras kasar (rough rice futures) bahkan telah meningkat lebih dari 80 persen sejak awal 2026. Kenaikan harga beras tersebut terjadi ketika harga komoditas biji-bijian utama lainnya, termasuk jagung dan gandum, justru mengalami penurunan.

Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa kenaikan harga berkaitan erat dengan fenomena El Nino yang berlangsung saat ini. Kondisi cuaca kering yang lebih ekstrem mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman pangan di sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Padahal, kedua kawasan tersebut menyumbang lebih dari separuh produksi beras dunia.

Tekanan ini semakin serius karena para petani di berbagai negara Asia sedang memasuki masa panen, sementara kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya menjadi kendala produksi. India, yang merupakan eksportir beras terbesar dunia, termasuk negara yang menghadapi tantangan tersebut.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), sebagaimana dikutip Bloomberg, memperkirakan produksi beras global akan mengalami penurunan pada musim ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) juga memperkirakan produksi beras dunia akan menurun pada musim 2026-2027.

Thailand, salah satu eksportir utama beras dunia, juga menghadapi risiko gangguan produksi. Menurut laporan terbaru USDA Foreign Agricultural Service, risiko terbesar berada pada tanaman padi di luar musim tanam utama (off-season crop) yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi.