Dampak kenaikan harga tersebut bahkan mulai terasa di tingkat konsumen. Bloomberg melaporkan harga beras di Filipina, yang merupakan importir beras terbesar dunia, melonjak 21 persen pada Oktober 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data pemerintah Filipina.

Bloomberg juga mengingatkan bahwa kenaikan harga di tingkat grosir biasanya membutuhkan waktu sebelum sepenuhnya diteruskan ke pasar ritel. Namun, kenaikan harga di Filipina menjadi indikasi bahwa tekanan pasar internasional mulai dirasakan konsumen.

Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya ketahanan pangan dunia terhadap perubahan iklim. Beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat di berbagai kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Gangguan produksi di negara-negara produsen utama berpotensi mempengaruhi pasokan dan harga pangan lintas negara.

Di tengah perkembangan tersebut, Indonesia memiliki modal lebih kuat setelah berhasil mencapai swasembada beras pada 2025. Berdasarkan data tetap Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan dengan 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.

Kekuatan produksi tersebut ditopang oleh ketersediaan beras nasional yang mencapai sekitar 25 juta ton. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa jumlah tersebut terdiri atas sekitar 4,5 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog, sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen, serta sekitar 10 juta ton stok di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

Adapun kebutuhan beras nasional mencapai sekitar 2,5 juta ton per bulan. Dengan demikian, total ketersediaan tersebut setara dengan kebutuhan sekitar 10 bulan ke depan, atau hingga Juli-Agustus 2027.

"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di Horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," ungkap Amran dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).