NADIKABAR.COM — PT Remitra Global International Tbk (MKNT) berdiri di atas dua usaha yang sudah berjalan, yaitu manufaktur baja dan budi daya udang. Perusahaan juga sedang mengkaji industri yang berpotensi memberi imbal hasil yang baik bagi grup dan memperkuat fundamental grup dalam jangka panjang, salah satunya energi terbarukan.
Perusahaan tengah mengamati sejumlah peluang, yaitu pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB), dan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Hal ini masih berada pada tahap pengamatan dan kajian, serta belum terdapat kepastian bahwa kajian ini akan berujung pada investasi, termasuk mengenai waktu dan hasilnya.
"Saat ini kami sedang mengkaji sektor energi terbarukan, dan belum ada keputusan investasi. Kami memahami bahwa melangkah ke bidang baru adalah keputusan besar bagi pemegang saham. Karena itu, apabila kelak perseroan memperluas usaha ke sektor ini, langkah tersebut akan kami jalankan sesuai ketentuan pasar modal dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku, dengan alokasi modal yang terukur demi meningkatkan nilai bagi pemegang saham," kata Direktur Utama RGI Santoso Widjojo dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
Perusahaan berencana memperluas kegiatan usaha dari salah satu anak usahanya untuk mencakup kegiatan usaha holding pada Oktober 2026, dan menyelenggarakan RUPSLB penyesuaian kegiatan usaha RGI pada November hingga Desember 2026. Seluruh langkah tersebut tunduk pada persetujuan pemegang saham dan otoritas yang relevan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
MKNT menggelar paparan publik untuk menyampaikan kondisi grup dan rencana setelah pelaksanaan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Ikhtisar grup yang dipaparkan manajemen menunjukkan pendapatan tahun buku 2025 lebih dari Rp 900 miliar dan total aset sekitar Rp 1.300 miliar, dengan lebih dari 600 karyawan di seluruh grup.
Secara proforma setelah PMTHMETD, neraca grup menunjukkan total aset Rp 1.604,5 miliar, liabilitas Rp 628,0 miliar, dan ekuitas Rp 976,5 miliar, atau rasio liabilitas terhadap ekuitas 0,64 kali. Angka ini bersifat proforma dan indikatif, dan bukan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit.
Bisnis manufaktur baja grup memproduksi dan memasok baja struktural untuk proyek konstruksi berbagai skala di Indonesia sejak 2008. Perjalanannya dimulai dari produksi billet 100.000 ton per tahun, dan kapasitas itu berhasil digandakan dalam dua tahun. Penerapan teknologi rolling mill pada 2012, disusul penambahan kapasitas 20% pada 2014, hingga memiliki kapasitas terpasang sebesar 300.000 ton per tahun pada 2025. Pabriknya berdiri di atas lahan 6 hektare (ha) di dalam kompleks seluas 9 ha di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten, dengan lebih dari 550 tenaga kerja terlatih.
Di sisi budi daya udang, MKNT melalui anak usahanya mengelola tambak udang air payau di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, dengan fokus pada udang berkualitas tinggi. Tambak produktif saat ini berdiri di atas lahan 27,72 ha dengan luas kolam 12,18 ha yang terbagi dalam tiga blok. Melalui anak usahanya, perusahaan juga bermitra dengan petambak dan masyarakat pesisir melalui penyediaan lapangan kerja, pelatihan, dan program berkelanjutan.
Presiden Komisaris: Handoyo SetiawanKomisaris: M. Idrus MarhamKomisaris Independen: Erry Firmansyah
Direktur Utama: Santoso WidjojoDirektur: Jehuda Ebenhaezer Winata