NADIKABAR.COM — Perubahan warna, bentuk, dan frekuensi buang air besar dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan saluran pencernaan. Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain, seseorang perlu mempertimbangkan pemeriksaan ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi.

Pada laman EatingWell, Rabu (21/10) waktu setempat, mengulas enam tanda saat buang air besar yang dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis pencernaan.

Pertama, feses berwarna hitam dan bertekstur seperti aspal. Kondisi ini dapat mengindikasikan perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas, seperti lambung. Meski demikian, sejumlah obat dan suplemen, termasuk suplemen zat besi, juga dapat mengubah warna feses menjadi hitam.

Feses berwarna hitam yang lengket seperti tar atau disertai tubuh lemas dan pusing perlu mendapat perhatian medis segera karena dapat menandakan perdarahan.

Kedua, terdapat darah pada feses. Darah berwarna merah dapat berasal dari wasir atau luka pada anus, tetapi juga bisa menandakan masalah yang lebih serius pada saluran pencernaan. Karena penyebabnya beragam, perdarahan saat buang air besar sebaiknya diperiksakan kepada tenaga medis.

Tanda ketiga yakni diare cair yang berlangsung terus-menerus. Diare dapat disebabkan oleh infeksi, efek samping obat, atau gangguan penyerapan zat gizi. Jika keluhan tidak kunjung membaik, terutama ketika disertai tanda dehidrasi, demam, atau nyeri perut berat, pemeriksaan medis diperlukan.

Lalu keempat, keinginan buang air besar pada malam hari hingga membangunkan seseorang dari tidur. Keluhan yang berulang dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan, termasuk penyakit radang usus seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.

Kelima, frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda sembelit, terutama jika feses keras, sulit dikeluarkan, atau disertai rasa tidak tuntas setelah buang air besar.

Terakhir, perubahan pola buang air besar yang menetap. Perubahan frekuensi, bentuk feses, atau munculnya rasa ingin buang air besar secara mendesak perlu diperhatikan, terlebih jika disertai nyeri perut atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Perubahan pola buang air besar tidak selalu menandakan penyakit serius. Pola makan, asupan cairan, obat-obatan, dan aktivitas sehari-hari dapat memengaruhi kondisi feses.

Namun, perubahan yang menetap atau disertai gejala lain tidak sebaiknya diabaikan. Pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan penyebabnya dan memastikan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Penerjemah: Farika Nur Khotimah