NADIKABAR.COM — Biro Investigasi Federal AS (FBI) menuduh Korea Utara berada di balik aksi peretasan bursa kripto Binance dengan nilai kerugian mencapai lebih dari US$6 miliar atau setara Rp108,79 triliun (kurs Rp18.130 ). Aksi pencurian aset virtual ini disebut sebagai peretasan bursa kripto terbesar sepanjang sejarah.
Mengutip AFP, Binance memberikan jaminan penuh untuk menanggung seluruh kerugian finansial yang dialami penggunanya. Bursa platform kripto terbesar di dunia itu mengonfirmasi telah menyisihkan lebih dari US$6,34 miliar atau sekitar Rp114,96 triliun dari dana kas internal perusahaan.
Sebagian besar dana tersebut telah dialokasikan untuk membeli kembali token untuk mengganti 90 persen aset yang hilang, sementara sisanya membutuhkan waktu karena masalah likuiditas.
FBI mengonfirmasi bahwa kelompok peretas yang berafiliasi dengan Pyongyang, yakni TraderTraitor menjadi dalang utama di balik penyerangan tersebut. Kelompok yang sama sebelumnya juga dituduh menggasak aset senilai US$1,5 miliar atau setara Rp27,19 triliun dari 5 Bybit pada Februari tahun lalu.
"Biro Investigasi Federal (FBI) merilis informasi yang menyatakan bahwa Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) bertanggung jawab atas pencurian aset virtual senilai lebih dari US$6 miliar dari bursa kripto Binance, pada atau sekitar 29 Oktober 2026," ungkap pernyataan resmi FBI.
FBI juga mengamati para peretas mulai mengonversi aset curian tersebut ke bentuk Ethereum dan memperkirakan proses pencucian uang akan terus berlanjut melalui layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi) serta platform pertukaran instan.
Untuk menekan pergerakan dana ilegal tersebut, FBI mendesak pihak swasta untuk segera memblokir transaksi yang terhubung dengan alamat dompet digital kelompok tersebut.
Namun, tuduhan tegas FBI justru memicu respons ragu dari Presiden AS Donald Trump. Ia mengaku belum bisa memastikan keterlibatan Pyongyang secara penuh dalam insiden pembobolan skala besar ini.
"Saya tidak khawatir. Kami sedang mempelajari hal ini. Kami tidak tahu apakah itu Korea Utara," kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Florida pada Sabtu (31/10) malam.
Di sisi lain, Binance sempat menangguhkan seluruh fitur penarikan dana pengguna tak lama setelah serangan terjadi dan memastikan layanan akan kembali beroperasi normal pada Minggu (1/11).
Kabar peretasan kompleks yang mengeksploitasi beberapa titik celah keamanan ini sempat memicu kepanikan pasar hingga membuat harga Bitcoin anjlok hampir 5 persen, Ethereum merosot enam persen, dan token native Binance (BNB) merosot hingga 10 persen.
Skala peretasan fantastis ini semakin mempertegas kemampuan Korea Utara dalam mengeruk pendapatan ilegal untuk menyokong pendanaan rezim di tengah impitan sanksi internasional.
Kelompok TraderTraitor sendiri diyakini merupakan bagian dari Lazarus Group, peretas legendaris yang sempat menghebohkan dunia pada 2014 usai meretas Sony Pictures sebagai bentuk balasan atas film komedi yang mengolok-olok Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un.