NADIKABAR.COM — Ketika Ginandjar Kartasasmita dipercaya menjadi Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri pada 1983, pekerjaannya bukan sekadar merumuskan kebijakan dari balik meja. Ia turun mendorong industri nasional sekaligus membuka ruang bagi pengusaha pribumi untuk tumbuh, memperkuat kemampuan usaha, dan berani bersaing.

Dari kiprah itu muncul sejumlah nama pengusaha yang kemudian kerap dikaitkan dengan pembinaan Ginandjar-mereka yang belakangan populer disebut sebagai "Ginandjar Boys". Di tim redaksi nama yang disebut pernah mendapat dorongan dan pembinaan Ginandjar adalah Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Fadel Muhammad, dan Fahmi Idris.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenang kiprah tersebut dalam pengantar buku Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa, karya Suhartono dkk., yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. "Usaha peningkatan produksi domestik benar-benar dilakukan saat itu oleh Ginandjar secara optimal sehingga mendorong kemajuan usaha produksi dalam negeri," tulis Kalla.

Menurut Kalla, Ginandjar juga dengan tulus mendorong dan membina pengusaha pribumi di berbagai bidang usaha dan teknologi. Yang menarik, kata Kalla, Ginandjar tidak pernah meminta balas jasa dari para pengusaha yang pernah dibantunya.

Kisah itu menjadi salah satu sisi menarik dari buku setebal sekitar 500 halaman tersebut. Buku ini merekam perjalanan panjang Ginandjar sejak mulai berkiprah pada 1965, melewati masa pemerintahan Presiden Soekarno, lebih dari tiga dekade pemerintahan Soeharto, hingga masa Reformasi.

Nasionalisme ekonomi menjadi salah satu benang merah perjalanan Ginandjar.Ketika mendapat tugas mengurusi peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, ia mendorong agar kemampuan produksi nasional tidak sekadar menjadi pelengkap dalam pembangunan ekonomi. Produk dalam negeri, industri nasional, dan pengusaha Indonesia harus diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi kekuatan ekonomi.

Bagi Ginandjar, perlindungan terhadap industri nasional bukanlah tujuan akhir. Perlindungan semestinya menjadi jembatan agar pelaku usaha memiliki waktu dan kesempatan untuk memperkuat kemampuan, meningkatkan teknologi, memperluas pasar, dan pada akhirnya mampu bersaing.