Jika seluruh eksperimen berjalan sesuai rencana, Google membayangkan jaringan pusat komputasi yang terdiri dari 81 satelit. Wahana antariksa tersebut akan terbang dalam formasi dekat dan bekerja secara paralel untuk menjalankan beban komputasi.
Google menilai komunikasi antarchip menjadi salah satu faktor penting dalam sistem tersebut. Bandwidth dan latensi akan menentukan seberapa efektif satelit dapat bekerja bersama, terutama untuk menjalankan beban kerja AI berskala besar.
"Bandwidth dan latensi antar TPU sangat, sangat penting saat Anda mencoba menjalankan beban kerja multi-rak. Kami berusaha melihat ke depan, tidak hanya beban kerja yang ada saat ini, tetapi juga di mana posisi mereka dalam lima tahun ke depan," kata Beals
Namun, Google juga mengakui masih ada persoalan besar yang harus diselesaikan, terutama terkait infrastruktur peluncuran. Teknologi roket yang dibutuhkan untuk mengirim pusat komputasi dalam jumlah besar ke orbit dengan biaya rendah belum tersedia pada skala yang dibutuhkan.
Dalam perhitungan Google, roket Starship milik SpaceX harus melakukan sekitar 1.800 kali peluncuran dalam 10 tahun agar biaya pengiriman muatan ke orbit bisa ditekan hingga mendekati USD 200 atau sekitar Rp 3,3 juta per kilogram pada 2035.
Angka tersebut merupakan bagian dari riset Google mengenai Project Suncatcher, proyek yang mengeksplorasi penggunaan satelit untuk menjalankan komputasi AI di luar angkasa.