NADIKABAR.COM — Terduga hacker China menyamar sebagai karyawan perusahaan AI Anthropic dan mantan pejabat Amerika Serikat dalam kampanye spionase yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mendalam mengenai perkembangan AI di Amerika, menurut laporan Proofpoint, perusahaan keamanan siber di Silicon Valley.
Para hacker menargetkan akun email para pakar pengendalian ekspor AI dan penerapan AI di bidang militer, serta topik lainnya. Para target bekerja di sejumlah universitas AS, lembaga think tank, dan firma hukum.
Proofpoint tak menemukan bukti pembobolan yang berhasil pada organisasi-organisasi target, namun kelompok hacker terkait China dikenal gigih dan akan terus mencoba hingga berhasil.
"Kami yakin kelompok hacker tersebut adalah aktor ancaman yang selaras dengan pemerintah China berdasarkan pola penargetan yang konsisten dengan kepentingan pemerintah China, infrastruktur dan artefak teknis yang kami amati, serta bukti penguat dari mitra industri," ujar peneliti Proofpoint, Mark Kelly.
Berita mengenai upaya peretasan yang terjadi pada bulan Februari dan Juli ini muncul di tengah AI terus menjadi titik fokus krusial dalam hubungan AS-China. Presiden Donald Trump membahas masalah AI minggu lalu di Gedung Putih dengan pemimpin China Xi Jinping, namun tidak menghasilkan kesepakatan substantif.