NADIKABAR.COM — Peretas Korea Utara (Korut) yang diduga berada di balik pencurian aset kripto senilai US$6,3 miliar dari Binance disebut memiliki kemampuan tinggi dalam membobol perusahaan keuangan digital.

Para pakar keamanan siber menyebut kelompok tersebut tidak hanya mengandalkan perangkat lunak berbahaya, tetapi juga memahami cara kerja sistem perusahaan dan pegawai yang menyetujui transfer dana.

Dikutip dari Reuters, perusahaan investigasi blockchain TRM Labs dan Chainalysis mengaitkan pencurian tersebut dengan kelompok peretas Korut bernama TraderTraitor.

Nama TraderTraitor sebelumnya muncul dalam peringatan bersama FBI, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA), serta Departemen Keuangan AS pada 2022. Peringatan itu menjelaskan penggunaan perangkat lunak berbahaya dan berbagai taktik lain untuk menyasar pengembang perangkat lunak serta staf teknologi informasi di perusahaan kripto.

Peneliti perusahaan keamanan siber DTEX Michael Barnhart menyebut TraderTraitor sebagai kelompok peretas Korut paling mumpuni yang berfokus pada sektor keuangan.

Menurutnya, kelompok itu diperkuat sejumlah operator paling berpengalaman dari jajaran APT38, unit peretasan Korut yang telah lama berorientasi pada pencurian uang.

Para peneliti menjelaskan TraderTraitor menyasar pengembang dan staf teknologi informasi melalui perangkat lunak berbahaya atau tawaran pekerjaan palsu.

Dalam salah satu modusnya, korban diperdaya untuk mengunduh perangkat lunak berbahaya saat mengikuti wawancara kerja palsu. Cara ini membuka akses peretas terhadap informasi login dan data sensitif lainnya.

Direktur Senior Riset Ancaman Sophos Rafe Pilling mengatakan laporan awal mengenai pembobolan Binance menunjukkan pola yang sesuai dengan taktik kelompok Korut.

Ia menilai keahlian kelompok tersebut terletak pada kemampuannya memahami bagaimana sistem dan pegawai perusahaan memproses persetujuan transfer uang.

Binance menyatakan pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk membekukan sebagian aset kripto yang dicuri. Sejauh ini, aset senilai sekitar US$3 miliar telah ditemukan keberadaannya, tetapi belum berarti seluruhnya berhasil dibekukan atau dikembalikan.

Pencurian dari Binance menambah panjang daftar aksi yang dikaitkan dengan peretas Korut.

Dalam laporan Desember 2025, Chainalysis menyebut Korut telah mencuri sedikitnya US$6,75 miliar dalam bentuk aset kripto hingga akhir tahun tersebut. Angka itu mencakup pembobolan bursa Bybit senilai US$1,5 miliar pada Februari 2025.

Menurut para pakar, kelompok tersebut juga mencuri US$387 juta dari bursa Bitget pada September. Barnhart memperkirakan total minimum aset kripto yang dicuri Korut kini mencapai sekitar US$13,5 miliar.

Dana hasil pencurian itu disebut tidak berhenti pada keuntungan finansial. Para pakar dan pejabat AS mengaitkannya dengan pendanaan program persenjataan Korut.

Barnhart mengatakan peretas menyerahkan dana curian kepada kelompok pencucian uang dari jaringan kejahatan terorganisasi China.

Selain peretasan, FBI dalam pengumuman pada 13 Oktober menyebut warga Korut diam-diam bekerja di perusahaan teknologi dan keuangan di AS maupun negara lain. Mereka disebut mengirim penghasilan kepada pemerintah Korut sekaligus mencuri data sensitif.

Menurut FBI, pendapatan dari pekerja tersebut dan aktivitas peretasan membantu mendanai program nuklir serta militer Korut.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut kejahatan siber Korut sebagai persoalan global. Negara itu dinilai semakin mengandalkan kejahatan siber untuk menghindari sanksi internasional dan membiayai program senjatanya.

Barnhart turut mengaitkan aliran dana tersebut dengan pengembangan drone serta dukungan Korut terhadap perang Rusia.