NADIKABAR.COM — Setelah cukup lama menggunakan iPhone 17 Pro Max, saya terbiasa dengan layar besar, kamera andal, dan pengalaman iOS yang familier. Namun, cara menggunakannya hampir selalu sama: semua aktivitas berlangsung di satu layar datar. Kehadiran iPhone Duo mulai mengubah kebiasaan tersebut.

Perbedaan iPhone Duo dan iPhone 17 Pro Max paling terasa pada desain, layar, cara membuka kunci, multitasking, hingga pengalaman menikmati hiburan. HP lipat pertama Apple ini menawarkan fleksibilitas yang tidak ditemukan pada iPhone konvensional, meski ada sejumlah kompromi.

Secara singkat, iPhone Duo lebih menarik bagi pengguna yang ingin memanfaatkan layar besar untuk membaca, menonton, dan multitasking. Sebaliknya, iPhone 17 Pro Max masih menjadi pilihan praktis bagi pengguna yang menginginkan pengalaman iPhone konvensional tanpa perlu beradaptasi dengan desain lipat.

iPhone Duo mulai dijual di Indonesia pada Jumat (30/10/2026), dengan harga mulai Rp 45.678.910. Setelah menggunakannya selama beberapa hari, saya merasa daya tarik terbesarnya bukan sekadar spesifikasi, melainkan cara baru menikmati aktivitas sehari-hari.

Lantas, seperti apa pengalaman menggunakan iPhone Duo setelah terbiasa dengan iPhone 17 Pro Max? Berikut kesan awal kami.

Perubahan pertama langsung terasa ketika menggenggam iPhone Duo. Dalam kondisi tertutup, bentuknya pendek dan lebar menyerupai paspor, berbeda dengan iPhone 17 Pro Max yang memanjang seperti smartphone pada umumnya.

Layar luar 5,38 inch cukup nyaman untuk mengecek pesan, membaca notifikasi, atau membuka aplikasi secara singkat. Namun, untuk mengetik panjang, ruangnya terasa lebih sempit.

Begitu dibuka, layar utama 7,58 inch menawarkan ruang jauh lebih lega untuk membaca, menonton, hingga menjalankan dua aplikasi sekaligus.

Menariknya, ketika sedang mengetik lalu layar sedikit dilipat, keyboard otomatis terbagi dua ke sisi kanan dan kiri. Sensasinya menyerupai mengetik pada buku yang terbuka.

Bodi iPhone Duo hanya setebal 5,2 mm saat terbuka dan 11,3 mm ketika dilipat, dengan bobot 254 gram. Bentuknya yang ringkas membuat perangkat tetap nyaman disimpan di saku, meski bobotnya terasa ketika digunakan dengan satu tangan dalam waktu lama.

Garis lipatan masih terlihat dari sudut tertentu, tetapi tidak terlalu mengganggu ketika fokus membaca atau menonton.

Perubahan lain yang membutuhkan adaptasi adalah penggunaan Touch ID pada tombol samping, bukan Face ID seperti iPhone 17 Pro Max. Saya masih beberapa kali refleks mencoba membuka kunci dengan wajah sebelum mengingat posisi sensor sidik jarinya.

Dari berbagai aktivitas yang dicoba, membaca menjadi salah satu pengalaman paling menyenangkan di iPhone Duo.

Lapisan nano-texture pada layar dalam membantu mengurangi pantulan cahaya. Ketika perangkat sedikit ditekuk, sensasinya pun berbeda dibandingkan membaca di layar datar iPhone 17 Pro Max.

Sayangnya, dua aplikasi e-book yang sering kami gunakan, Google Play Books dan Gramedia Digital, belum optimal memanfaatkan desain lipat iPhone Duo.

Kami kemudian mencoba Readgo yang sudah dioptimalkan untuk perangkat ini, lalu beralih ke aplikasi Books bawaan Apple.

Di Books, kami membaca The History of Sumatra dari koleksi gratis. Ketika iPhone Duo sedikit dilipat, tampilan halaman menyerupai buku yang sedang terbuka. Membaca pun terasa lebih natural, seolah memegang buku fisik.

Inilah salah satu momen ketika desain lipat benar-benar memiliki manfaat, bukan sekadar atraksi teknologi.

Sayangnya, toko buku Apple Books belum tersedia di Indonesia sehingga kami masih mengandalkan koleksi gratis. Dukungan aplikasi lokal seperti Gramedia Digital juga diharapkan menyusul agar pengalaman membaca semakin maksimal.

Keunggulan desain lipat juga terasa saat menikmati hiburan.

Ketika menonton Netflix, iPhone Duo bisa ditekuk sekitar 90 derajat dalam mode Desk. Video ditampilkan di bagian atas, sementara bagian bawah menjadi area kontrol sekaligus penyangga.

Saya tidak perlu lagi memegang HP atau mencari stand tambahan ketika menonton di meja. Pengalaman sederhana ini terasa praktis dibandingkan iPhone 17 Pro Max yang memerlukan penyangga terpisah.

Saat layar dibuka sepenuhnya, bidang tontonan lebih luas, meski video widescreen tetap menyisakan area hitam karena perbedaan rasio layar.

Menariknya, split screen iPhone Duo tidak hanya tersedia dalam orientasi landscape, tetapi juga portrait. Menurut saya, posisi portrait justru lebih menarik, terutama ketika menonton video.