Dari sisi kamera, iPhone 17 Pro Max sudah menjadi perangkat yang sangat saya andalkan untuk memotret. Namun, selama hands-on, keunggulan iPhone Duo justru lebih dulu terasa dari cara menggunakan kameranya.

Perangkat bisa diletakkan setengah terbuka sebagai penyangga untuk mengambil foto bersama atau merekam video tanpa tripod tambahan.

Layar luar juga dapat digunakan sebagai pratinjau sehingga orang yang difoto bisa melihat posisinya sebelum tombol rana ditekan.

Ada pula Smart Take yang memungkinkan pengambilan foto otomatis ketika subjek siap berpose, serta Kid Cue yang menampilkan animasi Snoopy dan karakter Peanuts di layar luar untuk menarik perhatian anak-anak.

Fitur-fitur tersebut menawarkan pengalaman berbeda dari iPhone 17 Pro Max.

Namun, kami belum bisa menyimpulkan mana yang menghasilkan foto lebih baik. Ketajaman gambar, reproduksi warna, zoom, foto malam, hingga kualitas video masih membutuhkan pengujian mendalam.

Fitur StandBy sebenarnya sudah familier bagi pengguna iPhone 17 Pro Max. Namun, desain lipat membuat penggunaannya di iPhone Duo terasa lebih fleksibel.

Perangkat bisa diletakkan setengah terbuka sebagai jam meja, kalender, atau bingkai foto tanpa penyangga tambahan, bahkan tidak selalu harus terhubung ke charger.

iPhone Duo menggunakan desain baterai ganda dengan kapasitas total 4.883 mAh berdasarkan label energi Uni Eropa.

Apple mengklaim perangkat ini mampu memutar video hingga 44 jam melalui layar luar atau 31 jam menggunakan layar dalam. Pengisian daya juga diklaim mencapai 50% dalam sekitar 20 menit menggunakan adaptor USB-C 60W atau lebih tinggi.

Namun, angka tersebut merupakan klaim Apple, bukan hasil pengujian kami.

Selama beberapa hari hands-on, perangkat digunakan bergantian untuk membaca, membuka Instagram, menonton Netflix, dan mencoba berbagai fitur layar lipat.

Kami belum melakukan pengujian baterai secara terkontrol. Karena itu, daya tahannya dibandingkan iPhone 17 Pro Max belum bisa disimpulkan, terutama karena konsumsi energi berpotensi berbeda ketika layar dalam lebih sering digunakan.

Setelah terbiasa menggunakan iPhone 17 Pro Max, saya merasa iPhone Duo bukan sekadar iPhone dengan layar lebih besar.

Perangkat ini menawarkan cara baru menggunakan smartphone Apple. Membaca terasa seperti memegang buku, menonton Netflix tidak selalu membutuhkan penyangga, dan dua aplikasi bisa dijalankan bersamaan.

Pengalaman memainkan Zenless Zone Zero juga berkesan. Perpindahan permainan dari layar dalam ke layar luar tanpa jeda yang terasa menunjukkan manfaat praktis desain lipat.

Namun, pengalaman baru tersebut datang bersama kompromi. Layar luar relatif kecil untuk mengetik panjang, bobotnya tidak ringan, dan pengguna iPhone konvensional perlu beradaptasi dengan Touch ID serta perubahan tata letak tombol dan antarmuka.

Ekosistem aplikasi juga belum sepenuhnya matang. Ketahanan layar lipat dalam jangka panjang masih perlu dibuktikan, sementara harga mulai Rp 45 jutaan membuat iPhone Duo bukan pilihan untuk semua orang.

Dari pengalaman awal ini, iPhone Duo lebih cocok untuk pengguna yang ingin menikmati pengalaman baru melalui layar lipat, terutama untuk membaca, menonton, dan multitasking.

Sementara itu, pengguna yang mengutamakan kepraktisan, kematangan aplikasi, serta kemampuan kamera yang telah terbukti pada iPhone 17 Pro Max mungkin masih lebih nyaman bertahan dengan perangkat tersebut.

Bukan berarti kamera iPhone Duo kalah mumpuni. Perbandingan kualitas foto dan video, performa, baterai, hingga ketahanan penggunaan sehari-hari masih membutuhkan pengujian lebih mendalam.

Perlu digarisbawahi, seluruh kesan ini berdasarkan pengalaman beberapa hari menggunakan iPhone Duo, bukan pengujian jangka panjang.

Hasil pengujian selengkapnya akan kami bahas dalam review lengkap iPhone Duo di NadiKabar mendatang.