Saat memutar Netflix, YouTube, maupun Apple TV, tayangan tetap tampil dengan rasio aspek aslinya di bagian atas layar. Sementara itu, bagian bawah dapat digunakan untuk membaca artikel NadiKabar, membuka media sosial, atau menjalankan aplikasi lain.

Saya bisa menonton sambil beraktivitas tanpa harus bolak-balik aplikasi. Pengalaman ini tidak ditemukan pada iPhone 17 Pro Max yang belum mendukung dua aplikasi tampil bersamaan seperti iPhone Duo.

Instagram juga menawarkan pengalaman berbeda. Pada orientasi yang sesuai, konten dan komentar bisa tampil berdampingan sehingga saya dapat membaca komentar tanpa menutupi Reels yang diputar.

Sementara itu, Split View memungkinkan Safari dan Notes dibuka bersamaan, memudahkan saya membaca referensi sambil mencatat informasi penting.

Namun, kemampuan multitasking iPhone Duo masih terbatas pada dua aplikasi dengan pembagian layar 50:50. Sejumlah HP lipat kompetitor sudah memungkinkan lebih banyak aplikasi dibuka sekaligus dengan ukuran jendela yang bisa disesuaikan.

Saya berharap Apple meningkatkan fleksibilitas tersebut, setidaknya mendekati pengalaman multitasking iPad. Dengan layar dalam seluas 7,58 inch, potensinya masih bisa dikembangkan lebih jauh.

Meski menawarkan pengalaman baru, belum semua aplikasi siap memanfaatkan desain lipat iPhone Duo.

Selama beberapa hari penggunaan, kami menemukan sejumlah aplikasi masih menampilkan antarmuka seperti iPhone biasa atau belum mendukung pengalaman khusus ketika perangkat sedikit dilipat.

Apple sebenarnya telah memperkenalkan label "Made for iPhone Duo" di App Store untuk membantu pengguna menemukan aplikasi dan game yang sudah dioptimalkan.

Namun, dukungan pengembang masih perlu diperluas, termasuk untuk aplikasi populer dan layanan lokal Indonesia.

Bagi saya, kesiapan ekosistem aplikasi menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum beralih dari iPhone 17 Pro Max.

Untuk menjajal performa chip A20 Pro, saya memainkan Zenless Zone Zero, game action RPG besutan HoYoverse.

Permainan pertama dijalankan dalam orientasi landscape menggunakan layar dalam. Bidang pandangnya terasa lega, membuat aksi pertarungan dan lingkungan permainan terlihat lebih lapang.

Ketika orientasi diubah menjadi portrait, tampilan game langsung menyesuaikan dengan jeda yang nyaris tidak terasa.

Namun, kejutan terbesar muncul ketika iPhone Duo dilipat saat permainan masih berlangsung.

Game langsung berpindah dari layar dalam ke layar luar tanpa lag yang saya rasakan. Permainan pun bisa dilanjutkan tanpa harus membukanya kembali dari awal.

Kelancaran tersebut tidak semata-mata berkat A20 Pro, tetapi juga optimasi iOS dan dukungan aplikasi.

Meski demikian, sesi bermain masih singkat. Kami belum mengukur frame rate, suhu perangkat, konsumsi baterai, maupun kestabilan performa dalam sesi gaming panjang.

Tidak semua perubahan pada iPhone Duo langsung terasa familier.

Dock aplikasi kini berada di samping ketika layar dibuka. Saya masih beberapa kali refleks mencarinya di bagian bawah seperti pada iPhone 17 Pro Max, meski penempatan baru tersebut terasa masuk akal setelah terbiasa.

Tombol volume juga dipindahkan ke bagian atas perangkat. Awalnya agak membingungkan, tetapi justru mudah dijangkau ketika iPhone Duo digunakan dalam mode Desk atau Tent.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah penempatan speaker secara diagonal. Konfigurasi ini membantu mempertahankan pengalaman audio stereo ketika orientasi perangkat berubah.

Selama menjajal Netflix, YouTube, dan Apple Music, suara yang dihasilkan terasa jernih, cukup bertenaga, dengan efek stereo yang tetap terasa dalam posisi portrait maupun landscape.

Detail ini penting karena pengalaman menonton dan bermain game di layar lipat tentu kurang lengkap tanpa kualitas audio yang memadai.