"(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada," terang Hermawan.

Untuk diketahui, komoditas daging ayam ras sempat jatuh pada April 2026 dengan mencatatkan deflasi hingga 6,20%. Sebulan kemudian, pada Mei 2026, komoditas tersebut juga kembali deflasi di angka 3,83%. Dampak deflasi tentu saja sangat mempengaruhi peternak unggas dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks harga yang diterima petani unggas mulai menurun setelah Maret 2026 sempat bertengger sangat tinggi di 138,19. Namun April 2026 turun ke 132,22. Mei 2026 kembali turun ke 130,57. Juni dan Juli 2026 masing-masing turun ke 127,23 dan 127,02. Terakhir pada Agustus dan September 2026 kembali menguat menjadi 132,43 dan 134,99.

"Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal," tambah Hermawan.