Perundingan tersebut berlangsung di tengah serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Serangan itu turut meningkatkan biaya energi dan pengiriman global.
Di sisi lain, Arab Saudi meningkatkan ekspor minyak mentah pada Oktober dibandingkan September meskipun infrastruktur energinya mendapat serangan dari kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran. Informasi tersebut disampaikan oleh dua dari tiga perusahaan pelacakan kapal dan perdagangan.
Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) pada Minggu memutuskan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember.
Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar bahwa tidak akan ada penyesuaian kebijakan produksi lebih lanjut hingga tahun depan. OPEC+ masih menghadapi gangguan ekspor akibat perang Iran.