"Kan rata-rata sekarang masih dibuat US$ 90 kalau nggak salah harga minyak dunianya, yang kita bayar ya, untuk asumsi APBN itu. Jadi masih ada ruang. Mudah-mudahan kita nggak naik harga minyak dunia nggak naik lebih tinggi lagi. Seandainya naik ke level yang sekarang, bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi nggak usah terlalu khawatir kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3%," jelasnya.
Dikutip dari CNBC, lonjakan harga minyak ini didorong oleh meningkatnya pertempuran tim redaksi AS melawan Iran di Teluk Persia. Pecahnya perang mendorong kekhawatiran pelaku pasar akan penurunan ekspor energi melalui Selat Hormuz.
Pada akhir perdagangan Rabu (10/9) kontrak berjangka Brent yang kerap menjadi patokan global naik 3,4% menjadi US$ 101,21 per barel. Sementara harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga naik hingga 3,3% dan ditutup pada US$ 96,05 per barel.