Meski dibayangi sentimen kelebihan pasokan dan meredanya tensi geopolitik, aksi jual tajam (sell-off) yang menekan harga minyak ini diyakini tidak akan berlangsung lama.
CEO perusahaan konsultan energi XAnalysts, Mukesh Sahdev, menepis anggapan harga akan terus tertekan pascapemilu AS.
"Jawaban singkatnya adalah tidak," ujarnya merespons proyeksi harga rendah.
Sahdev beralasan risiko geopolitik masih sangat sulit diprediksi. Anggota kongres baru dari Partai Demokrat baru akan resmi menjabat pada Januari 2027, sehingga tidak akan ada perubahan mendadak pada opsi kebijakan militer dan luar negeri AS saat ini.
Di sisi lain, ia mengingatkan Iran bisa saja merespons hasil pemilu AS ini dengan tekad perlawanan yang lebih agresif.
Lebih lanjut, pandangan Sahdev mengenai kerentanan pasar turut ditopang oleh minimnya ketersediaan stok fisik. Persediaan minyak komersial di negara-negara konsumen utama dunia saat ini tengah berada di titik terendahnya dalam 15 tahun terakhir.
Fakta tersebut selaras dengan rilis data Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rab, yang melaporkan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS secara keseluruhan kembali merosot pada pekan lalu seiring melonjaknya angka permintaan ke level tertinggi dalam setahun.