Ketut menambahkan Bapanas secara resmi telah mengusulkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk dapat diadakan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas). Rakortas diharapkan dapat membahas dan memutuskan penambahan kuota program SPHP jagung pakan sebanyak 150 ribu ton.

"Beberapa waktu yang lalu Bapak Kepala Bapanas sudah mengundang seluruh asosiasi peternakan telur di Surabaya untuk memastikan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi. Pada kesempatan tersebut sudah disepakati bahwa untuk mengendalikan harga, unlock-nya harga telur di tingkat produsen ini, Bapak Kepala Bapanas sudah memutuskan untuk menambah SPHP jagung sebanyak 150 ribu on," beber Ketut.

Sebagai informasi, program SPHP jagung pakan tahun 2026 telah dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota salur ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton yang terdiri dari kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah.

Kuota sebanyak 138,65 ribu ton dengan asumsi kebutuhan 3 bulan bagi kelompok peternak mikro. Kemudian 50,37 ribu ton dengan asumsi kebutuhan 2 bulan bagi kelompok peternak kecil dan 24,17 ribu ton dengan asumsi kebutuhan 1 bulan bagi peternak menengah.

"Nanti kita menunggu rakortas di Kemenko Pangan, sehingga dapat membantu peternak yang menghadapi kondisi relatif harga pakan agak naik sedikit. Kemudian DOC (Day Old Chicks) dan lain sebagainya. Dengan adanya tambahan SPHP jagung ini, harapan kita peternak masih bisa membeli pakan dengan harga yang relatif wajar," tambah Ketut.

Adapun realisasi salur SPHP jagung pakan per 18 Agustus telah mencapai 49,97 persen dari total target 213,2 ribu ton. Secara kuantitas sebanyak 120,31 ribu ton telah diakses peternak yang tersebar di 28 provinsi. Daerah dengan jumlah peternak tertinggi adalah Jawa Timur dengan 3.672 peternak dan Jawa Tengah 2.012 peternak.