Namun masalahnya, jika salah satu sistem PHP berhasil diretas, maka akan terjadi lateral movement atau pergerakan lintas jaringan. Jadi membiarkan PHP usang di dalam intranet dengan adanya celah keamanan PHP2Shell ini ibarat menyimpan bom waktu dalam sistem anda. Beberapa RCE (Remote Code Execution) tingkat tinggi memiliki kemampuan worm dimana jika berhasil menginfeksi satu server, maka akan otomatis memindai dan menginfeksi server PHP lainnya tanpa bantuan manusia dan dalam waktu singkat seluruh sistem akan bisa diakses oleh peretas.

Bahayanya tidak hanya datang dari luar yang memanfaatkan lateral movement, tetapi juga bahaya lain seperti insider threat dimana serangan dari dalam oleh aktor jahat di dalam intranet atau ada laptop karyawan yang terinfeksi malware dan terhubung ke jaringan intranet.

Ketika kerentanan diumumkan dan detail cara mengeksploitasi beredar di internet, peretas hanya butuh bilangan menit untuk membuat skrip otomatis untuk menyerang sasarannya. Sebaliknya, bagi tim IT, memperbarui versi PHP yang usang membutuhkan waktu mingguan atau bulanan karena kode yang tidak kompatibel harus ditulis ulang. Jadi ini memang pilihan pahit yang harus diambil dan take down ini masih lebih baik daripada sistemnya berhasil disusupi atau diambil alih oleh peretas.

*Alfons Tanujaya adalah pakar keamanan siber, pendiri PT Vaksincom dan aktif memberikan edukasi dan menulis tentang malware dan sekuriti bagi komunitas IT Indonesia.