NADIKABAR.COM — Jawaban Meta AI yang menyebut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai pihak yang meminta pemblokiran konten kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuai perhatian publik. Menanggapi polemik tersebut, Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan bahwa jawaban chatbot kecerdasan buatan (AI) tidak bisa dijadikan bukti.
Polemik ini bermula ketika netizen menanyakan dugaan pemblokiran konten demonstrasi dan karhutla kepada Meta AI di media sosial. Chatbot tersebut memberikan jawaban yang mengaitkan pemblokiran konten dengan permintaan Komdigi.
Menurut Ismail, publik perlu membedakan informasi yang tercantum dalam dokumentasi resmi Meta dengan kesimpulan yang dibuat oleh AI. Pasalnya, jawaban chatbot bukan merupakan pernyataan resmi perusahaan dan belum tentu menggambarkan fakta secara utuh.
"Kita perlu memisahkan dulu mana yang fakta dan mana yang tafsiran. Mekanisme pemblokiran atas permintaan pemerintah itu memang ada, dan Meta sendiri menjelaskannya di laman transparansi mereka. Labelnya juga resmi, 'not available in Indonesia because we complied with legal request from KOMDIGI'. Jadi itu bukan karangan AI," ujar Ismail dikutip NadiKabar.
Meski demikian, ia menilai kesimpulan Meta AI yang menyebut sebagian besar pemblokiran terjadi karena permintaan Komdigi merupakan generalisasi. Dijelaskannya bahwa chatbot tersebut tidak memiliki akses ke data internal moderasi Meta untuk memastikan klaim tersebut.
"Tapi kalau AI bilang 'sebagian besar pemblokiran karena Komdigi', itu sudah generalisasi. Meta AI tidak punya akses ke data moderasi internal Meta. Bahkan Meta AI sendiri kemudian meralat dan menyebut jawabannya bukan dari rilis resmi, melainkan dari pola label legal request," tuturnya.
Ismail menegaskan jawaban AI yang terdengar meyakinkan tidak serta-merta menjadikannya bukti yang dapat digunakan untuk memastikan suatu tuduhan.
"(Jawaban Meta AI) Tidak bisa (jadi bukti). Jawaban chatbot itu bukan pernyataan resmi perusahaan. Ia hanya merangkum informasi yang beredar, lalu menyusunnya jadi jawaban yang terdengar meyakinkan," kata Ismail.
Ia menyebut riset SAFEnet dan Remotivi dapat menjadi rujukan untuk menelusuri persoalan tersebut. Ia menilai publik perlu merujuk langsung pada penelitian dan data yang tersedia, alih-alih hanya mengandalkan jawaban chatbot.