"Fasilitas yang sedang kita siapkan belum selesai, dan mungkin baru beroperasi di tahun 2027. Itu bisa menjadi alternatif ya. Tidak tergantung 100% dari dari Middle East," tambah Suryandi.

Meski begitu, menurutnya perusahaan akan tetap melakukan impor nafta. Artinya fasilitas pengolahan nafta dalam negeri itu hanya sebagai alternatif untuk memastikan Chandra Asri memiliki bantalan pengaman (buffer) apabila kembali terjadi gangguan pasokan di jalur utama Timur Tengah.

"Tetap kita tetap impor nafta? Iya. Tetap kita impor, tapi ini menjadi alternatifnya apabila ada terjadi gangguan lagi. Nggak tahu nanti gangguannya di mana. Misalnya pabrik di Middle East ada gangguan, lalu kemudian pasokannya juga terganggu, ya kita akan punya alternatif," tegas Suryandi.