NADIKABAR.COM — Huawei membawa pendekatan kesehatan yang lebih serius lewat Huawei Watch GT 7 Pro. Smartwatch ini tidak hanya memantau detak jantung atau tidur, tetapi juga dibekali fitur untuk membantu pengguna memahami risiko penyakit jantung koroner hingga diabetes.

Edy Supartono, Senior Retail Manager Huawei Device Indonesia, menjelaskan salah satu fitur unggulan Huawei Watch GT 7 Pro adalah Industry 1st Coronary Heart Disease Risk Study atau yang pertama dengan kemampuan itu. Fitur ini dirancang untuk memberikan early awareness terhadap potensi risiko penyakit jantung koroner.

Menurut Edy, penyakit jantung koroner dapat dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, faktor keturunan hingga usia.

Masalahnya, tanda awal seperti nyeri dada, napas pendek, kelelahan tidak biasa, keringat dingin, atau pusing sering dianggap sebagai keluhan sehari-hari.

"Risiko ini yang kita ingin antisipasi dan membuat masyarakat itu lebih aware sama kondisi kesehatannya sendiri," ujar Edy.

1st Coronary Heart Disease Risk Study tidak langsung bekerja begitu Huawei Watch GT 7 Pro dipakai. Pengguna terlebih dahulu harus memberikan consent atau persetujuan untuk mengaktifkan fitur tersebut.

Setelah itu sistem meminta sejumlah informasi, seperti riwayat keluarga, berat badan, hingga tangan yang digunakan untuk memakai smartwatch. Pengguna kemudian menjalani pengukuran ECG dan pemantauan selama sekitar tiga hari.

Dalam periode tersebut, smartwatch dianjurkan tetap dipakai saat menjalani aktivitas sehari-hari maupun ketika tidur. Setelah data terkumpul, sistem akan menghasilkan evaluation report dengan kategori low risk, medium risk, atau high risk.

Edy mengatakan fitur tersebut ditujukan sebagai alat untuk membantu meningkatkan kesadaran pengguna terhadap kondisi kesehatannya, bukan pemeriksaan sekali pakai.

Selain fitur tersebut, Watch GT 7 Pro juga membawa ECG, arterial stiffness assessment, serta Heart Rate Variability (HRV) untuk memantau variasi detak jantung.

Huawei juga membekali Watch GT 7 Pro dengan Diabetes Risk Study.

Cara kerjanya kurang lebih serupa. Pengguna memulai periode pemantauan, kemudian smartwatch mengumpulkan data untuk dianalisis.

Menurut Edy, proses evaluasinya dapat berlangsung sekitar 3 hingga 14 hari, tergantung seberapa sering smartwatch digunakan.

Jika jam dipakai secara terus-menerus, termasuk ketika tidur, proses pengumpulan data dapat selesai lebih cepat. Sebaliknya, bila smartwatch sering dilepas, analisis membutuhkan periode lebih panjang.

Huawei tidak menyebut fitur ini sebagai pengganti diagnosis dokter. Informasi yang dihasilkan lebih diarahkan untuk membantu pengguna memahami potensi risiko dan meningkatkan awareness terhadap kondisi tubuh.

Fitur kesehatan lainnya yang ditonjolkan adalah Physical Readiness Score.

Fitur ini mencoba menjawab pertanyaan sederhana: apakah tubuh pengguna benar-benar siap melakukan aktivitas berat hari ini?

Huawei menganalisis sejumlah data, seperti aktivitas harian, kalori yang terbakar, kualitas tidur, kondisi saat tidur, hingga detak jantung.

Data tersebut kemudian diproses menggunakan algoritma untuk menghasilkan skor kesiapan fisik.

Sebagai contoh, jika pengguna merasa ingin berolahraga tetapi skor Physical Readiness relatif rendah, sistem dapat menjadi referensi untuk memilih aktivitas yang lebih ringan dan memberikan waktu recovery lebih banyak.

Huawei turut melengkapi Watch GT 7 Series dengan Advanced Sleep Tracking serta multidimensional emotional well-being.

Sleep Tracking menganalisis kondisi sebelum, selama, dan setelah tidur, termasuk durasi deep sleep, light sleep, serta frekuensi terbangun.

Sementara emotional well-being kini memberikan kategori kondisi emosional yang lebih detail dibanding generasi sebelumnya, seperti anxious, worried, upset, discouraged, hingga peaceful.

Dengan rangkaian fitur tersebut, Huawei menempatkan Watch GT 7 Pro tidak sekadar sebagai perangkat pencatat olahraga, tetapi sebagai smartwatch yang mencoba memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kondisi tubuh penggunanya.

"Namun hasil pemantauan smartwatch tetap sebaiknya dipandang sebagai informasi pendukung. Untuk diagnosis dan penanganan kondisi kesehatan, pemeriksaan oleh tenaga medis tetap diperlukan," pungkas Edy.