NADIKABAR.COM — Indonesia menghadapi dinamika cuaca yang cukup kontras pada awal November 2026. Di tengah hujan sangat lebat hingga ekstrem yang mengguyur sejumlah wilayah, kondisi kering masih berlangsung di banyak daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam unggahan di akun Instagram, BMKG mengungkapkan fenomena El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif masih memengaruhi kondisi atmosfer Indonesia. Kedua fenomena iklim tersebut cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Tanah Air.
Kondisi tersebut terlihat dari 543 titik pengamatan yang masih mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH), termasuk dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem panjang. Namun, bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami cuaca kering. Aktivitas gelombang atmosfer dan dinamika atmosfer regional masih berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
BMKG mencatat hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem pada 1-4 November 2026. Jawa Timur mencatat curah hujan harian tertinggi mencapai 358 milimeter per hari, disusul Bali sebesar 300 mm/hari, Aceh 167 mm/hari, dan Kalimantan Barat 101 mm/hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun El Nino dan IOD positif cenderung menekan pembentukan awan hujan secara umum, kondisi atmosfer lokal masih dapat menghasilkan hujan dengan intensitas tinggi.