Deon menilai proyeksi harga minyak untuk 2027 masih sulit dipastikan. Perkembangannya bergantung pada konflik AS-Iran yang mengganggu pasokan energi global, serta kemungkinan munculnya gejolak geopolitik lain.
Ia mengingatkan konflik Rusia-Ukraina pada 2022 juga menunjukkan ketegangan yang terjadi jauh dari Indonesia tetap dapat berdampak terhadap perekonomian domestik.
Tekanan tersebut juga dirasakan perusahaan energi pelat merah, terutama PT PLN (Persero). Deon memaparkan bahwa pada 2024, subsidi dan kompensasi pemerintah sudah menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatan PLN. Sementara itu, margin laba bersih perusahaan hanya sekitar 3 persen.
Porsi tersebut diperkirakan kembali meningkat pada 2025 dan 2026. Namun, besaran pastinya baru dapat diketahui setelah laporan APBN tahun berikutnya tersedia.
"Bayangkan sebuah perusahaan yang 30 persen pendapatannya bergantung pada anggaran negara, sementara margin laba bersihnya hanya sekitar 3 persen. Bagaimana perusahaan itu bisa bertahan tanpa subsidi dan kompensasi?" ujar Deon.
Ia menyebut ketergantungan tersebut sebagai risiko yang belum sepenuhnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi perlu diperhitungkan pemerintah. Menurutnya, percepatan transisi energi menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak gejolak harga energi global dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Di sisi lain, Deon mengungkapkan tiga pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang dipimpin Bahlil Lahadalia untuk mempercepat transisi energi.
Pertama, memperbaiki tata kelola sektor industri dan energi. Menurut Deon, pembenahan tata kelola menjadi salah satu tantangan mendasar agar kebijakan energi dan pengembangan industri dapat berjalan lebih terarah.