Meski demikian, hasil pengeboran terbaru belum dapat dikategorikan sebagai tambahan estimasi sumber daya maupun cadangan. EMAS masih membutuhkan kegiatan pengeboran tambahan serta evaluasi lebih lanjut untuk menentukan hasil eksplorasi tersebut.
PGAS menambah portofolio pasokan gas melalui empat kontrak jangka panjang baru. Seluruh kontrak tersebut diteken pada 28 Oktober 2026 dengan total estimasi nilai mencapai sekitar USD10,60 miliar.
Kontrak terbesar berasal dari pembelian LNG dari Lapangan Gas Abadi Masela. Nilainya mencapai USD7,34 miliar dengan masa pengiriman sekitar 15 tahun mulai 2033.
Kesepakatan tersebut melibatkan INPEX Masela, Pertamina Hulu Energi Masela, dan Searah Masela.
PGAS juga mengamankan pasokan LNG North Hub senilai USD1,54 miliar untuk periode 2029-2037, dengan opsi perpanjangan hingga 2038. Kontrak ini melibatkan Pertamina serta kontraktor Blok Ganal dan Rapak.
Selain itu, terdapat kontrak LNG South Hub senilai USD996,46 juta untuk periode 2027-2032. PGAS juga memperoleh pasokan gas dari Wilayah Kerja Sakakemang milik Medco E&P dengan nilai kontrak USD725,55 juta untuk periode 2027-2037.
Dengan tambahan empat kontrak tersebut, PGAS memperkuat ketersediaan pasokan gas hingga akhir 2040-an. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan menopang bisnis niaga gas berbasis LNG di tengah produksi gas konvensional domestik yang mengalami penurunan.
CNMA menetapkan pembagian dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp4 per saham.
Total dividen yang akan dibagikan perseroan mencapai Rp333,12 miliar. Keputusan tersebut diambil setelah CNMA mencatatkan laba bersih Rp416,30 miliar hingga September 2026.
Namun, laba bersih tersebut turun 6,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan jumlah dividen yang ditetapkan, dividend payout ratio CNMA mencapai 80,02% dari laba bersih 9M26.
Di perdagangan Kamis (29/10), saham CNMA ditutup pada level Rp72 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp4 per saham setara dengan dividend yield sebesar 5,56%.