NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada penutupan sesi I perdagangan siang ini, Senin (12/10/2026). Indeks saham berbalik melemah signifikan setelah menguat pada pembukaan perdagangan pagi tadi.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG siang ini melemah 1,94% ke level 5.975,78 siang ini. Indeks saham sempat menguat 0,56% ke level tertinggi secara intraday pada posisi 6.128,72 pagi tadi.

Tercatat volume perdagangan sebanyak 39,18 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,47 triliun. Adapun frekuensi saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 1.056.211 kali sepanjang perdagangan paruh pertama hari ini.

Indeks LQ45 juga tercatat melemah 1,62% ke level 591.929 hingga penutupan sesi I hari ini. Secara umum, tercatat 159 saham menguat, 537 saham melemah, dan 95 saham stagnan.

Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan IHSG dipicu aksi wait and see para investor terhadap dinamika global. Salah satu yang memberi sentimen negatif adalah memanasnya konflik Houthi Yaman terhadap Arab Saudi yang ditandai dengan serangan ke Riyadh.

"Geopolitik memanas: serangan Houthi ke Riyadh meningkatkan risiko keterlibatan AS dan eskalasi konflik Timur Tengah, yang dapat mendorong volatilitas harga minyak serta meningkatkan risk aversion investor," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Selain itu, pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS), di mana Consumer Price Index (CPI) menjadi katalis utama arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang tinggi berpotensi mempertahankan suku bunga ketat, menopang dolar AS, dan menekan aset emerging market.

Sementara di China, pelaku pasar mencermati data CPI dan neraca perdagangan September yang disebut menjadi indikator permintaan komoditas. Data yang kuat berpotensi mendukung ekspor Indonesia, sedangkan pelemahan permintaan dapat menekan saham berbasis komoditas.

Internasional Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober juga menjadi salah satu katalis pergerakan indeks siang ini. Investor disebut mencermati prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, dan respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik.

Kemudian oada 14-16 Oktober, pejabat The Fed akan mengumumkan arah kebijakan suku bunga setelah rilis data inflasi. Dolar AS yang bertahan dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi risiko bagi rupiah dan aliran dana asing.

Sementara berdasarkan catatan Mirae Asset Sekuritas, terdapat sejumlah saham konglomerat yang membebani pergerakan IHSG hingga siang hari ini. Di antaranya adalah CUAN (-9,1%), PTRO (-8,8%), hingga DSSA (-8,4%).