Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian Indonesia karena ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu penyedia teknologi dapat menimbulkan risiko ketika akses tiba-tiba dibatasi.

"Itu secara mendadak dan tanpa ada warning. Tapi yang jelas, itu memperlihatkan bahwasanya sovereignty (kedaulatan) dalam AI itu banyak sekali catatannya. Ketika kita punya satu ketergantungan AI yang disediakan pihak lain, kita tidak bisa memastikan apakah itu untuk selamanya bebas tersedia untuk kita," urainya.