Keberadaan telur cacing tersebut menunjukkan bahwa orang yang menghasilkan kotoran itu kemungkinan mengalami infeksi parasit usus.

Temuan ini juga memberikan gambaran mengenai persoalan sanitasi pada masa Viking. Pasalnya, kedua jenis parasit dapat menyebar ketika makanan, air, atau tangan terkontaminasi tinja yang mengandung telur cacing.

Meski demikian, para ilmuwan tidak dapat memastikan gejala apa saja yang dialami orang tersebut ketika masih hidup.

Selain telur parasit, analisis Lloyds Bank Coprolite mengungkap adanya sisa dedak biji-bijian dan serbuk sari.

Temuan tersebut memberikan petunjuk mengenai makanan yang dikonsumsi penduduk York sekitar 1.100 tahun lalu.

Penelitian terhadap fosil kotoran manusia juga membantu arkeolog memahami pola makan, penyakit, dan kondisi lingkungan masyarakat kuno.

Bukti keberadaan parasit turut ditemukan dalam penelitian lain terhadap peninggalan zaman Viking. Hal ini menunjukkan infeksi cacing usus bukan persoalan yang hanya dialami satu orang.