Kerangka-kerangka tersebut berasal dari batuan Trias Akhir di Kabupaten Guanling, Provinsi Guizhou. Daerah tersebut pada saat itu merupakan cekungan laut yang terhubung dengan Samudra Tethys. Fosil lain dari wilayah tersebut termasuk ikan dan reptil laut, termasuk ichthyosaurus.

Menemukan amfibi di sedimen laut tidak secara otomatis membuktikan bahwa amfibi tersebut hidup di air laut. Sungai dapat membawa bangkai ke lepas pantai, atau tubuh yang mengapung dapat hanyut menjauh dari daratan. Oleh karena itu, para peneliti membutuhkan bukti yang membedakan penghuni laut dari pendatang yang tidak sengaja.

Kondisi lingkungan kuno memperkuat interpretasi mereka. Lokasi tersebut berjarak sekitar 200 kilometer dari daratan utama, dengan kemungkinan adanya pulau-pulau di sepanjang tepi dataran tinggi yang berjarak sekitar 30 kilometer. Hewan yang bergantung pada air tawar akan menghadapi pemisahan yang cukup besar dari sumber daya yang dibutuhkannya di darat.

Kondisi pengawetan memberikan petunjuk lain karena kerangka tersebut mempertahankan elemen anggota tubuh yang halus. Spesimen yang lebih besar mempertahankan tulang tangan yang masih terhubung, artinya tulang-tulang tersebut tetap berada pada posisi anatomisnya. Koneksi seperti itu akan sulit dipertahankan setelah pembusukan yang luas dan pengangkutan di laut.

Oleh karena itu, para penulis berpendapat bahwa hewan-hewan tersebut kemungkinan besar mati di dekat tempat mereka tinggal. Mereka juga mengidentifikasi area yang rusak dan berubah pada satu spesimen dan mengecualikan tulang-tulang tersebut dari analisis mereka. Kasus ini bergantung pada anatomi yang terawetkan dengan baik, daripada memperlakukan setiap fitur yang terlihat sebagai sama informatifnya.

Tim tersebut menguji interpretasi habitat menggunakan isotop stronsium dalam tulang. Isotop adalah bentuk suatu unsur yang berbeda dalam jumlah neutronnya. Membandingkan proporsinya dapat membantu merekonstruksi lingkungan yang terkait dengan hewan purba.

Pengukuran tulang fosil mendekati perkiraan tanda isotop stronsium air laut selama awal Trias Akhir. Pengukuran tersebut berbeda dari batuan di sekitarnya, yang membawa pengaruh lebih kuat dari sumber geologis di daratan terdekat. Kontras tersebut mendukung interpretasi bahwa hewan-hewan tersebut menyerap sinyal laut saat masih hidup.

Bukti kimia dari fosil memerlukan kehati-hatian karena penguburan dapat mengubah komposisi aslinya. Para peneliti mempertimbangkan kemungkinan itu, yang dikenal sebagai diagenesis. Mereka berpendapat bahwa perbedaan antara tulang dan batuan di sekitarnya, bersama dengan kesamaan antara kedua hewan tersebut, menunjukkan perubahan terbatas dan bukan penggantian total dari komposisi asli.

Oleh karena itu, hasil isotop melengkapi latar geologis dan kerangka yang terkait. Tidak ada satu pun pengukuran yang memberikan pengamatan langsung tentang kehidupan sehari-hari hewan tersebut. Namun, secara bersama-sama, bukti-bukti tersebut membuat gaya hidup laut lepas pantai lebih masuk akal daripada transportasi jarak jauh dari habitat air tawar .